Menulis adalah merawat ingatan, dan bagi kami di Penabur Intercultural School (PIS) Tanjung Duren, menulis adalah sebuah napas yang konsisten ditiupkan sejak tahun 2015. Hingga hari ini, perjalanan literasi kami telah membuahkan 12 buku antologi, sebuah pencapaian yang bukan sekadar deretan angka, melainkan bukti ketahanan sebuah komunitas kreatif di tengah berbagai perubahan zaman.

Melampaui Jeda: Milestone 12 Buku

Sejak dimulai satu dekade lalu, kami berkomitmen untuk menerbitkan satu buku setiap tahunnya. Mayoritas karya ini berupa antologi cerita pendek (cerpen) dan kumpulan puisi yang lahir dari buah pikir siswa serta guru Bahasa Indonesia.

Namun, perjalanan ini tidak selalu mulus. Pada masa pandemi 2021–2023, proses penerbitan sempat terhambat akibat tantangan pembelajaran jarak jauh dan adaptasi sistem belajar. Namun, kami tidak benar-benar berhenti. Di balik layar laptop masing-masing, tulisan-tulisan tetap lahir dari refleksi kesepian, kecemasan, hingga harapan. Kami hanya menunda penerbitan, bukan menghentikan kreativitas. Ketika situasi stabil di tahun 2023, energi yang terkumpul itu meledak kembali menjadi karya yang lebih matang.

“Bagi saya, 12 buku ini bukan hanya soal konsistensi, melainkan tentang ketahanan literasi. Bahwa meski dunia berhenti sejenak, kreativitas tidak boleh ikut berhenti.”

Pengakuan Nasional dan Kualitas Karya

Dedikasi ini membuahkan hasil manis ketika karya siswa kami mendapatkan pengakuan dari pemerintah. PIS Tanjung Duren berhasil meraih juara dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh Kemendikbud wilayah Jawa Tengah. Sebagai bentuk apresiasi, karya puisi siswa kami dipilih untuk dicetak dan diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Pengakuan ini bukan tanpa alasan. Dalam setiap proses kreatif, kami menjaga empat pilar nilai utama :

  1. Kejujuran Pengalaman: Termasuk keberanian menceritakan kesulitan hidup.
  2. Kedalaman Refleksi: Menyelami karakter manusia secara utuh.
  3. Ketelitian Bahasa: Melalui proses penyuntingan yang disiplin.
  4. Relevansi Sosial: Memastikan karya tetap kontekstual dengan zamannya.

Ragam Topik dan Sudut Pandang Interkultural

Isi dari 12 antologi ini sangatlah kaya. Pandemi justru memperkaya tema kami; dari sekadar tugas akademik menjadi ruang kontemplatif tentang kerinduan sekolah, arti pertemanan, hingga iman.

Sebagai sekolah SPK (Satuan Pendidikan Kerjasama), kami juga terlibat dalam Kolaborasi Internasional pada Hari Ibu Internasional tahun 2020. Bergabung dengan sekolah-sekolah SPK lain di seluruh Indonesia, kami menyadari bahwa nilai kasih sayang dan ketangguhan adalah tema universal. Pendekatan intercultural ini pun memberikan sentuhan unik, di mana unsur budaya dan bahasa daerah tetap dipupuk untuk memperkaya cita rasa karya.

Manajemen Waktu: Komitmen di Atas Kondisi Ideal

Satu pelajaran berharga yang kami petik adalah : produktivitas bukan soal menunggu kondisi ideal. Mempertahankan komitmen selama bertahun-tahun adalah tantangan besar.

Melalui diskusi virtual, platform daring, dan revisi digital, budaya literasi kami tetap hidup meski ruang kelas fisik tertutup. Konsistensi kecil yang dipertahankan di masa sulit inilah yang menjadi fondasi kebangkitan kami saat ritme sekolah kembali normal. Buku-buku yang kami hasilkan adalah bukti otentik bahwa semangat literasi di sekolah kami tak pernah padam.

Pesan untuk Para Penulis Muda

Kepada para siswa, saya selalu menekankan bahwa karya yang mereka buat adalah jejak sejarah pribadi mereka. Cerpen dan puisi bukan sekadar barisan kata, melainkan ruang untuk mengolah emosi dan memahami jati diri.

“Tulisan adalah sebuah sejarah. Menulislah dan belajar senantiasa, karena belajar tidak memiliki garis finish.”

Melalui 12 karya literasi ini, siswa belajar bahwa setiap perjuangan dalam menulis tidak akan pernah sia-sia. Selama pena masih digoreskan, sejarah akan terus tercatat.

 

Author: Norma Kristiani & Indah Nova Ida Manurung
Teacher,
PENABUR Intercultural School Secondary & Junior College Tanjung Duren